Kamis, 07 Agustus 2008

Ketika Bintangku Masuk Sekolah

Duh terlambat lagi aku kerja hari ini, putraku menangis dan ngambek tidak mau sekolah, gurunya akhirnya menelponku dan memintaku datang. Bergegas kutinggalkan laptop dan peralatan perang lainnya, aku harus menemuinya.
Di sekolah aku disambut rengekannya.

‘’Ayun (sahrul) mau puyang Bunda, tak mau cekolah, ‘’ rengeknya
‘’Kenapa nak? ‘’ ujarku menyabarkan
‘’Bu Guru ndak pintal, bu guru nakal ‘’adunya.. Dug! Aku kaget, kupandangi wajah gurunya yang tampak memerah (malu). Kupeluk pangeranku dengan lembut dan mengusap punggungnya, dan seperti yang sudah kuduga ia lansung bercerita
‘’tadi Icha putul Ayun, Icha ndak ucap maaf bunda, kan nakal Bunda.. ‘’. Aku tersenyum.ini toh sebabnya? Setelah membujuknya dan sedikit (memaksa) teman dan gurunya untuk minta maaf akhirnya Bintangkupun tenang.

Ini adalah hari ketiga Bintangku belajar diplay Grup, dan sudah tiga kalipula aku harus bicara pada gurunya, hari pertama Putraku membuat gurunya bingung dengan pertanyaan ‘Keleta api pake bensin kan bu? Lampunya mana? Gurunya yang mengajaknya bermain kereta api dari balok kayu menjawab tidak ada, karena ini hanya mainan. Anakku protes: mana bica.. kalau ndak pake bensin mana bisa jalan? pake batu bara ya? Mana gerobaknya uapnya?

Hari kedua gurunya bertanya : siapa yang punya Dedek dirumah? Ketika Giliran Bintang dengan tenang ia menjawab: ‘’kata bunda: ayun (sahrul) sendiri aja dah pucing apalagi adek.

Duh..anakku, tiga hari ini menjadi hari yang penuh warna pelangi bagi Bunda, betapa tidak sudah berkali kali mencari sekolah untukmu namun semuanya enggan (walaupun tidak menolak) menerimanya.

Bunda bisa memahami akan sangat sulit mengajarkan siswa seperti Sahrul, dalam usianya yang genap 4 tahun Putraku ini belum berjalan, apalagi berlari, tentu saja memerlukan kerja ekstra bagi para guru. Playgruop Arafah ini adalah milik Kakak sepupuku yang mati matian aku membujuknya agar mendirikan playgrup ini, dengan jaminan aku yang mengurus semua perizinan dan apapun yang berhubungan dengan pemerintah, dan sebagai bayarannya anakku harus bisa belajar disana.

Bunda memang harus bersabar, kesabaran yang sudah kujalani sejak kelahirannya empat tahun yang lalu, kebahagiaan mendapatkan buah hati terasa indah dalam jangka dua bulan saja, kecelakaan yang kualami tiga minggu sebelum kelahirannya membuat Bintang mengalami pembengkokan tulang belakang, dan ini membuat kalsium dan darah merahnya tidak diproduksi dengan sempurna.

Bintang mudah sekali alami panas tinggi, tak jarang suhu badannya mencapai 42 C, dan selalu diiringi dengan diare terus menerus, dan sejak umur 4 bulan Bintang mengalami masa kritis, 13 bulan lamanya putraku berjuang antara hidup dan mati, bahkan beberapa kali aku hamper kehilangannya untuk selamanya, satu satunya doa yang kupinta” Rabbi..jika memang putraku tidak berumur panjang maka ambilkah dia sekarang ..aku tidak tahan melihat penderitaannya. Namun Rabb…jika sebagai seorang Ibu aku mohon padamu..Biarkan aku menjalani jihad membesarkan anakku sampai kematian memelukku.

Hampir dua tahun lamanya kami hanya tidur antara rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lain. Hari hari yang penuh kecemasan, dan kesiapan untuk sebuah kehilangan.

Kelainan tulang belakang, paru paru, gangguan pencernaan dan berbagai penyakit lainnya mengisi medical recordnya, bukan hanya rumah sakit yang kami kunjungi, pengobatan alternative bahwa pengobatan ala kampungpun kami jalani, bahkan secara bergurau dokternya berkata kalaulah cairan infuse dikumpulkan maka kami akan punya kolam renang pribadi.

Tahun selanjutnya adalah tahun yang penuh dengan dari therapy yang satu ke therapy yang lain, berbagai alat dipakaikan kepadanya, berbagai cairan dan obatan dilulurkan ke tubuhnya, putraku selalu menangis, bahkan tak jarang menjerit, matanya menatapku memohon pertolongan, duh..nak Bunda sangat ingin menghentikan penderitaanmu..tapi Bunda benar benar tidak berdaya. Jalan ini harus kita lewati, walau menyakitkan.

Dan Sebulan yang lalu, seminggu.sebelum ulang tahunnya yang keempat Bintang kembali dirawat dirumah sakit karena…pembengkakan hati.
Bukan hanya itu, hari hariku selama empat tahun ini adalah hari hari yang dipenuhi dengan rasa Iri, sebagai Ibu aku sangat Iri melihat anak anak yang lain berlari dengan lincah sementara putraku hanya bisa merangkak, Bintang baru bisa mengangkat kepalanya saat usianya mencapai 16 bulan sementara bocah sebayanya sudah melangkah,

Saat umurnya dua setengah tahun, disaat temannya mengejar bola, Bintangku baru belajar merangkak, dan sekarang.. empat tahun usianya sudah… Bintangku baru bisa melangkah kalau dibantu orang lain….Rabbi..kapankah pangeranku ini berlari ‘menyambutku…kapankah rasa rindu melihatnya melangkah akan Kau Jawab?


Tapi Nak..tiga hari ini semuanya penderitaan ini hilang sudah, keletihan dan kelelahan itu terbayarkan dengan semua keceriaanmu, celotehan celotehanmu menghapuskan jejak air mata empat tahun belakang ini.

‘’Rul.ngaji yuk..alif.. Baa..taaa..tsaaa…
‘’Butan Bunda: alif.. lamm. Baaa.. taaa..tsaaa…. gitu kata Nagabonar

Atau..

Sahrul besok dah besar mau jadi apa?
‘’ jadi anak yang coleh, (soalnya setiap mau tidur aku mengajarkanya membaca doa” bismikaAllah Humma Ahya wa Amuut, ya Allah jadikanlah ayun anak yang coleh, amin)

Duh nak….. melihat keceriaanmu, mendengar celotehannmu..Bunda siap mendampingimu berpuluh tahun lagi..walau dengan pederitaan yang lebih berat dari sebelumnya. Nak..teruslah bicara, teruslah bertanya…walau untuk itu Bunda harus meninggalkan apapun Bunda. Teruslah berjuang Nak..hingga kau bisa melangkah dan kita akan segera meraih Bintang.

0 komentar:

Design by Amanda @ Blogger Buster